Bagai Sang Awan Dipuncak Langit


Dalam cahaya dan panas matahari semua air samudera terbang menguap, seperti berusaha menuju kepada sang matahari. Begitu pun segala pepohonan, batangnya tumbuh ke atas seperti ingin memeluk matahari yang memberinya kehidupan. Saat matahari hadir memulai pagi, ia datang seakan membawa kegembiraan yang mengaktifkan kembali pelangi kehidupan. Sebaliknya, saat ia pergi ke balik cakrawala untuk menutup hari, hampir semua kehidupan seakan mengikuti jejaknya menutup agenda hari. Sebuah kebersamaan yang indah antara matahari dan kehidupan mahluk-mahluk bumi.

Seindah semua itu, rupanya dalam perjalanan Jiwa pun terjadi hal yang sama; semua sedang berjalan menuju arah pulang ke tempat cahayaNya di puncak kekosongan. Mereka berjalan di atas jejak-jejak peran kehidupan lewat tuntunan agama, kepercayaan, adat atau media spiritualitas lainnya. Ada yang telah sampai, ada yang di pertengahan jalan. Ada juga yang istirahat kelelahan oleh beratnya perjalanan pemahaman dan pemurnian Jiwa. Ada pula yang bahkan belum berangkat kemana-mana dan benar-benar tenggelam menikmati keindahan sementara di bumi.

Jika kita adalah salah satu yang mulai berjalan pulang menuju cahayaNya, sejauh mana sesungguhnya kita telah sampai saat ini? Kita masih memerlukan ciri-ciri untuk menilai posisi keberadaan kita sejauh ini. Kadang ciri yang ada membuat kita terjebak pada kekeliruan dan menduga diri telah sampai di puncak cahayaNya. Untuk itu mungkin layak bila kita belajar pada pesan-pesan perjalanan awan.

Semua mengerti bahwa awan adalah perjalanan air yang menguap ke langit oleh cahaya dan panas mentari. Ia menguap karena angin menerbangkannya ke atas, ke tempat yang lebih kosong. Lalu pada ketinggian tertentu menjadi awan putih yang terombang-ambing oleh pergerakan udara yang mengalir dari tempat bertekanan tinggi ke tempat bertekanan rendah. Sebagian besar yang ingin kembali turun untuk menyatu dengan kehidupan bumi akan menjadikan dirinya mendung berwarna gelap. Ketika bertemu satu sama lain, mereka menciptakan kilatan petir dan suara guntur yang mengerikan bagai api dan pekikan neraka. Dari mereka pula tercipta badai yang kerap menyisakan kehancuran bagi bumi.

Sebaliknya, sebagian yang berhasil naik hingga jauh ke atas akan mulai bergerak pelan-pelan. Bahkan saat mulai mendekati puncak ketinggian, awan itu tampak seperti lukisan langit yang terdiam tanpa gerakan. Sebagian kecil yang berhasil naik lebih jauh mendekati kehampaan dan kesunyian langit, wujudnya mulai menghilang lalu mengisi kekosongan langit, bersatu dengan keheningan angkasa.

Ibarat perjalanan awan inilah perjalanan Jiwa. Di awal kehidupan, semua ingin terbang ke tempat yang lebih tinggi. Entah dalam bentuk kesuksesan duniawi ataupun pencapaian rohani. Pada ketinggian tertentu banyak yang malah terombang-ambing dan berpindah kesana kemari oleh hembusan angin pemahaman yang bergerak liar. Mereka terjebak dan ikut mengalir dalam perdebatan dualitas tinggi rendah, benar salah dan sebagainya. Sebagian yang malah menjadi kian berat dibebani oleh keterikatan pada duniawi, ingin kembali menikmati perjalanan bumi dan mengubah pemahaman mereka menyerupai mendung yang gelap.

Mereka inilah yang kemudian gemar berdebat dan bahkan menciptakan api kemarahan dengan benturan muatan positif-negatif dalam mendung pemikirannya. Suara mereka bagai gemuruh yang mewakili kegusaran, seolah berharap semua bumi mengakui keberadaan mereka di langit kekuasaan. Mereka bahkan membuktikan hal itu dengan membakar isi bumi atau melesakkan diri demi menciptakan banjir air mata yang menghanyutkan.

Berbeda dari mereka yang tetap membiarkan diri mereka menjadi awan putih yang ikhlas meninggalkan keterikatan dengan bumi. Di sebuah tempat mendekati langit, mereka menjadi Jiwa-Jiwa dalam pribadi yang stabil serupa awan Sirrus yang lebih banyak diam dan merenung. Bahkan ketika mereka masih membiarkan kekosongan dan kesunyian menariknya kian jauh ke puncak langit, mereka seakan menghilang dari pandangan bumi. Mereka lenyap menjadi ada yang tiada, menyatu dengan kekosongan. Begitulah Jiwa-Jiwa yang telah berhasil mencapai puncak perjalanannya menyatu dengan kesadaran semesta. Mereka serupa awan di puncak langit yang ada dan tiada.

Belajar pada awan, inilah saatnya menyadari sejauh mana kita kini berada. Apakah baru mulai menguap menuju setiap langit agar tampak sebagai kesuksesan dari bumi, ataukah masih terombang-ambing dalam gerakan dualitas tinggi-rendahnya pemahaman. Mungkin juga tanpa sadar kita bahkan telah memilih menjadi bagian dari kegelapan mendung yang hadir di bumi untuk menciptakan badai bagi kehidupan. Dengan labilnya pemahaman akan kesadaran Jiwa, kita justru ikut menciptakan perdebatan, menyulut api kemarahan dan menggelegarkan gemuruh suara-suara gusar yang menggiring dunia pada air mata dan kehancuran.

Dalam perjalanan jiwa serupa itu, semoga saja kita bisa tetap sebagai awan putih yang terus bergerak kian mendekat ke puncak cahaya dan kekosonganNya untuk kemudian sirna menjadi unsur ada dan tiada. Menyatu denganNya untuk mengisi kekosongan dan keheningan di puncak langit kesadaran. Atau jika akhirnya kita harus menjadi mendung gelap yang ingin turun kembali ke bumi, setidaknya kita hanya menciptakan kesejukan gerimis dan menghadirkan tutur tentang indahnya pelangi kehidupan bagi penghuni bumi.

Kita hanya perlu melakukan perjalanan Jiwa bagai perjalanan awan. Memulainya sebagai pribadi yang sejuk dan mudah mengalir dalam kehidupan bagaikan air. Lalu mengijinkan cahaya terang kesadaran langit meringankan kita dari beban keterikatan dengan bumi. Terbang bebas, ringan bagai udara tanpa kemelekatan. Mewarnai diri kita dengan kelembutan dan kesucian hati bagai awan putih. Dan tentu saja, terus mengarahkan diri ke puncak cahaya dan keheningan, hingga seakan lenyap untuk menyatu kembali dengan kesemestaan langit. Dan begitulah Jiwa kita di puncak pencapaian perjalanannya, mirip sekumpulan awan yang lenyap di puncak langit. Tetap ada namun menjadi sunyata.

Sumber Penulis : W.Mustika
Saat Semesta Berbicara
Previous
Next Post »