Mengubah Mendung Menjadi Hujan

 

Apakah anda percaya bahwa api bisa diciptakan dari air? Saat pertanyaan ini disampaikan di sebuah ceramah kehidupan, tentu tak satu pun yang seketika itu setuju apalagi percaya. Apakah anda sendiri percaya atau menganggapnya suatu kemustahilan?

Keraguan peserta ceramah seketika terhenti ketika diterangkan bahwa mendung di langit tak lain adalah sekumpulan uap air yang dapat menciptakan kilatan bunga api berupa petir. Barulah mereka sadar bahwa alam begitu banyak menghadirkan keajaiban di langit.

Dan serupa cahaya matahari yang suram ditutupi mendung, begitulah rupanya cahaya mata manusia akan muram saat tertutup mendung kesedihan. Lebih dari itu, mendung kesedihan di mata manusia kadang tidak saja dapat menetes sebagai hujan air mata, juga dapat menciptakan api kemarahan saat ia terhempas oleh badai keputusasaan. Dari sini, layaklah kita berhati-hati dengan mendung kesedihan.

Siapa pun yang pernah mengalami kesedihan akan mengerti kiasan makna di atas. Dan tampaknya selama ini, kebanyakan kita mudah menciptakan api kemarahan dan keputusasaan dari mendung kesedihan tadi. Namun mereka yang benar-benar terlatih bergerak alami akan mengubahnya menjadi airmata yang menyejukkan suasana hati yang panas, lalu menghanyutkan segala beban batin yang menyebabkan kesedihan itu ada. Menangis dengan ikhlas memang bisa menjadi sebuah cara menyembuhkan luka batin yang terjadi.

Bila tubuh fisik yang terluka dapat terasa pedih, begitulah batin Jiwa yang terluka bisa mengalami kepedihan. Kepedihan dan kesedihan memang bukan sesuatu yang salah bagi siapa saja dalam usia berapa pun. Itu sesuatu yang alami. Namun ia juga sebuah pertanda bahwa batin Jiwa kita masih rentan dan belum kebal terhadap dualitas kehidupan, sehingga ia mudah terluka oleh peristiwa yang memilukan.

Apa yang bisa dilakukan saat mendung kesedihan itu hadir dalam perjalanan hidup kita? Mirip dengan petani yang menyiasati kehadiran mendung dengan mulai bercocok tanam, begitulah dalam kesedihan kita bisa mulai menanam bibit harapan bagi masa depan yang lebih cerah. Bahkan pernah diyakini bahwa doa yang mengalir dalam kesedihan akan sangat kuat efeknya bagi sang pendoa. Jadi, daripada mengubah mendung kesedihan menjadi api kemarahan dan keputusasaan, lebih bermanfaat kita mengubahnya menjadi airmata keikhlasan yang dapat menyuburkan benih harapan yang kita tanam ke alam semesta melalui alunan doa-doa.

Bagi mereka yang sudah terlatih, kesedihan tidak akan bergerak menuju keputusasaan melainkan mendekati zona kepasrahan dan keikhlasan. Dalam keadaan pasrah dan ikhlas, telah terbukti bahwa doa manusia mudah menembus kesadaran semesta yang akan bergerak memenuhi harapan dalam doanya. Begitulah kesedihan dapat memberi manfaat besar bila orang memahami rahasianya. Karena dalam kesedihan, seseorang sedang terhubung dengan perasaan terdalamnya yang penuh kasih sayang. Sama halnya dengan kegembiraan, membawa orang terhubung dengan sumber kebahagiaan di dalam dirinya. Keduanya memberi peluang bagi kita untuk bersentuhan dengan rasa Jiwa.

Itulah sebab kenapa kesedihan dan kegembiraan begitu mudah menular dari satu manusia ke manusia lain, karena ada Jiwa yang sama ikut tersentuh dalam peristiwa tersebut. Berdoa dengan penuh pengharapan saat kesedihan datang dan berdoa dengan penuh rasa syukur tatkala kegembiraan tiba, akan dapat menyentuh Jiwa Semesta sebagai tempat kita berbagi kesedihan dan kegembiraan.

Dengan seluruh pengertian ini, mendung di langit sedang mengajari kita untuk menerima mendung kesedihan sebagai bagian alami dari langit emosional kita. Dan seperti mendung yang mengubah dirinya menjadi hujan yang menyuburkan bumi, begitulah kesedihan mesti diubah menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi tubuh, pikiran dan juga bagi kesadaran Jiwa.

Kesedihan membuat Jiwa dapat memahami hakekat penderitaan sebagai bagian yang mesti dipelajari. Kesedihan juga mengajari Jiwa untuk mengalami penderitaan yang sama, seperti yang pernah diciptakannya bagi orang lain pada kehidupan terdahulu. Kesedihan tak lain adalah bagian dari rangkaian karma. Ia mesti dirasakan dengan ikhlas tanpa suatu cetusan ide pembalasan dendam. Jika kesedihan hanya melahirkan rasa dendam terhadap seseorang yang telah menimbulkan kesedihan itu, maka kesedihan tersebut telah hadir sia-sia dalam kehidupan kita.

Siapa saja mengerti rahasia hukum karma, akan ikhlas menerima kesedihan tanpa perlu menjadi dendam pada apa atau siapa pun. Sebagaimana hujan yang turun untuk melenyapkan debu dan menyuburkan bumi, begitulah kesedihan akan melenyapkan penderitaan dan menyuburkan proses bertumbuhnya kematangan dan kemurnian Jiwa.

Sumber Penulis : W. Mustika
Saat Semesta Berbicara 
Previous
Next Post »