Bercahaya Bagaikan Mentari Pagi


Bukan matahari yang tak bersinar di musim hujan, melainkan mendung menabiri cahayanya. Begitulah cahaya Illahi manusia meredup karena mendung pikiran menabiri kesadaran nuraninya.
(W. Mustika)

Bermula dari setitik benih yang kasat mata, begitulah tubuh manusia bertumbuh besar dengan merangkai dirinya dari unsur-unsur fisik dan kimia yang terkandung dalam makanan dan minuman. Semua mengerti, bersumber dari bumilah makanan dan minuman manusia. Dan banyak yang tahu, bahwa dari pecahan matahari miliaran tahun yang lalu, bumi ini pernah berasal.

Merunut jalan panjang garis “keturunan” dari tubuh manusia, dengan mudah akan kita mengerti bahwa manusia dan mahluk hidup lain sesungguhnya berasal dari matahari. Mungkin ini menjadi alasan orang-orang di Bali, Jepang atau dalam peradaban Mesir Kuno, memuja matahari sebagai Sang Sumber kehidupan. Matahari adalah juga bintang, bagian dari alam semesta. Tentu saja, dengan demikian ada bagian alam semesta dalam tubuh kita yang semestinya memancarkan sinar layaknya matahari dan bintang-bintang.

Dan Jiwa manusia, kita pernah mendengarnya berasal dari Tuhan. Sebagai bagian terkecil dari Tuhan yang berdiam dalam tubuh manusia, rupanya ini menjadi alasan bagi para suci untuk menyebar pemahaman bahwa Tuhan menyertai kita di dalam diri (tubuh). Andai kebenaran ini tak bisa dipungkiri, maka kita (Jiwa) adalah mahluk cahaya di dalam tubuh manusia. Mirip kata-kata bijak dari guru-guru pencerahan; “Manusia bukanlah mahluk hidup yang sedang berjuang menuju cahaya, melainkan mahluk cahaya yang sedang ada dalam tubuh manusia, untuk hidup dan menjalani peran duniawinya.”

Tubuh dan Jiwa kita keduanya berasal dari sumber-sumber cahaya. Lalu apa yang telah membuat redup satu per satu cahaya kita sebagai mahluk ‘sempurna’ ciptaan Illahi?

Saat langit melukiskan matahari dan bintang-bintang dengan cahaya yang terlihat redup dari bumi, ia sedang bertutur bahwa setiap mendung yang menabiri langit dapat menyembunyikan cahaya terang matahari dan bintang. Serupa dengan itu, cahaya tubuh dan Jiwa manusia meredup saat mendung dalam pikiran menjadi tabir penghalang bagi terpancarnya cahaya semesta dan Illahi dari dalam.

Previous
Next Post »