Pulang Dengan Bahagia

Ada satu kepastian yang tak mungkin bisa kau hindari kelak anakKu; Kematian. Dan untuk setiap waktu serta lembaran hari yang kau lewati, kau sedang mendatangi kematian dan kepastian itu semakin mendekatimu. Meski demikian, ia selalu datang tanpa hari yang dapat kau pastikan. Apakah saat ini kau sudah bersiap diri demi menerima kepastiannya yang tak pasti itu? Apakah kau berani atau takut menghadapinya?



Keberanian bukanlah kesiapan, ketakutan bukan pula tanda ketidaksiapan. Hanya ketika kau telah mengerti tujuan hidupmu serta telah menjalaninya dengan sepenuh hati dan pemahaman, lalu ikhlas meninggalkan kehidupan ini dengan kebahagiaan, itulah kesiapan yang sesungguhnya. Tanpa semua itu, kematian masih akan memberimu bayang-bayang penderitaan oleh rasa kehilangan.

Tepat saat waktu kematian datang untuk memisahkan dirimu dari tubuh yang kau tempati selama ini, kau pun akan kehilangan kuasa atas tubuhmu. Kau juga kehilangan kesempatan untuk tetap berada di dalamnya meskipun kau masih menginginkannya. Jika tubuh dan pikiranmu sedang menderita, mungkin dengan mudah kau akan menerima kematianmu. Tetapi itu akan berbeda manakala tubuh dan pikiran sedang memberimu kebahagiaan duniawi saat sang waktu datang untuk menghentikan kebahagiaan itu secara tiba-tiba. Inilah sumber dari rasa takut pada kematian, anakKu. Rasa takut akan kehilangan sesuatu yang sesungguhnya tak pernah hilang darimu.

Semua hal membahagiakan yang pernah kau miliki harus rela kau tinggalkan di dunia ini. Perpisahan dengan semua bentuk kepemilikan selama hidup ini dapat membuatmu merasa sangat kehilangan. Dan rasa kehilangan itulah yang akan membawamu pada penderitaan di alam kehidupan setelah kematian. Sebelum mencapai keikhlasan, kau akan merasakan seluruh kehilangan itu seperti apa yang kau sebut sebagai rasa neraka.

Maka hari ini Nak, Ayah-Ibu akan mengingatkanmu lagi agar sejak awal bersiap diri menghadapi kepastian itu. Kau pernah melewatinya dengan kegagalan pada kehidupan terdahulu. Kini belajarlah untuk berangkat pulang dalam keadaan yang lebih baik daripada hidupmu sebelumnya. Belajarlah untuk selalu siap saat tiba waktunya kau pulang.

Sumber dari segala penderitaan Jiwa yang kau sebut neraka adalah ketidakikhlasanmu melepas hal-hal duniawi setelah kematian. Segala bentuk kemelekatan pikiran dan emosional terhadap apa yang pernah kau miliki atau alami di kehidupan duniawi ini akan menjadi penghambat kuat bagimu untuk dapat pulang kembali kepadaKu dalam damai.

Maka Nak, jika kelak kau ingin bisa pulang dalam kedamaian, belajarlah agar bisa tenang dan ikhlas tepat saat kematian itu tiba bagimu. Untuk mencapai hal ini, sepanjang hidup kau harus belajar dan melatih pikiranmu untuk tidak terjebak dalam kemelekatan terhadap setiap kepemilikan di dunia ini. Tidak melekat terhadap tubuhmu, terhadap hartamu, terhadap orang-orang yang menyayangimu. Juga tidak terhadap kepintaran, kesuksesan, atau kebahagiaan duniawimu. Kau memang boleh memiliki semua ini namun ikhlaslah meninggalkannya disini di saat kematianmu tiba.
Kapanpun kematian itu datang bagimu Nak, bebaskanlah segera dirimu dari segala hal duniawi ini. Lupakan, tinggalkan semuanya dengan ikhlas karena kau tidak membutuhkannya lagi di duniaKu. Di duniaKu, di dunia Kita anakKu, kebahagiaan itu tidak bersumber dari luar dirimu. Kebahagiaan itu menjadi milikmu sepenuhnya dalam sentuhan rasa yang tak mudah kau mengerti saat ini.

Jangan takut bahwa kau akan sendiri dalam dunia kematian. Aku akan mengirim Jiwa-Jiwa saudara, sahabat, kerabat pendahulumu untuk menemanimu menenangkan diri sesaat setelah di dunia kematian. Kau tidak akan kesepian kecuali kau sendiri yang memilih rasa kesepian itu akibat kemelekatan pada hal-hal yang telah kau tinggalkan di dunia.

Hindari segala pikiran, sikap, kata-kata dan perilaku yang dapat membuat Jiwamu merasa bersalah setelah kematian. Rasa penyesalan akan membuatmu menderita dan terjebak oleh keinginan untuk segera memperbaiki kesalahan itu. Itulah sebagian alasan Jiwa untuk kembali ke dunia ini dalam tubuh yang baru. Memperbaiki apa yang mereka sesali selama kehidupan terdahulunya.

Sesuatu yang bagi Jiwa dapat menimbulkan penyesalan adalah ketika dalam kehidupan duniawinya ia melakukan sesuatu yang tidak dilandasi kesadaran cinta kasih. Maka anakKu, landasilah segala yang kau pikirkan, katakan dan lakukan di dunia ini dengan cinta kasih dan kesadaran. Dengan begitu kau akan selalu berada di jalur yang searah dengan tujuan kelahiran dan peran kehidupanmu disini. Percayalah Nak, cinta kasih dan kesadaran itulah sumber kebahagiaan bagimu setelah melewati kehidupan duniawimu ini yang kelak akan membawamu bersatu denganKu.

Aku telah menyaksikan begitu banyak Jiwa anak-anakKu menderita setelah kematian. Ketahuilah Nak, bukan Aku yang menghukum mereka karena Aku bukanlah sang penghukum. Mereka telah menghukum diri mereka sendiri dengan rasa penyesalan itu. Mereka ingin memperbaikinya namun keadaan sudah berubah. Tubuh fisik itu tidak bisa lagi mereka gunakan untuk menuntaskan rasa penyesalan. Akibatnya mereka terjebak di antara dunia kematian dan dunia kehidupan yang telah mereka tinggalkan. Inilah yang kau kenal sebagai neraka anakKu.

Sungguh, Aku tidak menghendaki kalian menderita setelah kematian. Tetapi Aku sendiri tidak bisa memaksakan kalian bertumbuh sekehendakKu. Kalian memiliki kuasa atas diri kalian. Aku hanya bisa menawarkan jalan bagi kalian untuk bisa mencapai kebahagiaan bersamaKu setelah kematian. Jalan itu adalah jalan cinta kasih dan kesadaran. Benamkanlah setiap langkah kehidupanmu di jalan ini Nak, kelak kau akan memahami maksudKu. Di ujung jalan ini Aku menantimu pulang ke rumah kesadaran sejati dalam kebahagiaan abadi bersamaKu.

Sejauh ini banyak hal telah Kukatakan padamu Nak. Pahamilah semua itu semata-mata karena kerinduanKu pada kalian semua. Jalani kehidupan duniawi ini dalam kesejatian kalian sebagai Jiwa yang penuh cinta kasih. Dan kelak setelah kematian, pulanglah dengan damai dan bahagia anakKu. Ayah-Ibu telah menantimu sejak lama. Aku cukupkan pesanKu sampai disini, sisanya boleh kau baca dalam rangkaian makna yang Kutulis di alam sekitarmu. Selamat menjalani kehidupan anakKu. Ayah-Ibu mencintai kalian semua dalam besar rasa yang sama. Sampai jumpa.

Sumber Penulis : W. Mustika
Saat Semesta Berbicara
Previous
Next Post »