Kesucian Jiwa

Dalam perjalanan tugas dan proses pembelajaran diri di kehidupan untuk mencapai kembali kesucianmu sebagaimana diriKu Nak, akan Aku terangkan tentang kesucian itu dari sisiKu. Aku tidak ingin kau terjebak pada tingkat kesucian yang kau pahami selama ini. Keterjebakan itu justru membuatmu tidak pernah memahami arti kesucian semestamu sebagai Jiwa.



Kesucian semesta itu seperti intan dalam kubangan lumpur. Lumpur tidak mengubah intan itu menjadi lumpur dan intan tidak mengubah lumpur menjadi intan. Intan tetaplah intan, lumpur tetaplah lumpur. Namun intan mampu menjadikan lumpur itu sebagai lumpur yang berharga. Kuharap kau memahami makna yang Kusampaikan ini. Inilah kesucian yang tak ternoda. Bukan karena ia tidak ada bersama noda, namun karena ia tidak melihat noda itu sebagai sebuah noda. Ia ada seperti apa adanya.

Jika bagimu kesucianKu adalah ibarat cahaya matahari yang putih dan terang, Aku ingatkan bahwa dalam putih cahaya itu ada warna-warni pelangi. Putih cahayaKu dibentuk dari beraneka warna semesta. Aku menerima segala warna kehidupan yang ada di semestaKu. Dan dengannya Aku memberi warna pula pada kehidupan semesta ini tanpa merasa ternoda oleh warna-warni itu.

Aku memberi merah pada apa yang semestinya berwarna merah. Memberikan kuning, hijau, biru, hitam, atau warna lainnya pada apa yang semestinya Kuberi warna seperti itu. Aku tidak terjebak untuk menilai satu warna lebih baik dari warna lainnya. Karena itulah warna-warni yang Kumiliki bagi semesta ciptaanKu. Inilah kesucianKu yang tak ternoda karena Aku tidak melihat apapun sebagai noda bagiKu.

Benih cahaya kesucian dimulai ketika kau tidak terjebak untuk menilai benar atau salah berdasarkan pikiran. Karena penilaian pikiran atas benar-salah seperti itu mudah menjebakmu terperangkap dalam rasa suka dan benci. Dari rasa ini kau dibawa pada persahabatan dan permusuhan, damai dan peperangan. Penilaian inilah noda bagi kesucian Jiwa. Karena penilaian pikiran ini akan membuat Jiwa sulit menerima dualitas kehidupan sebagai bagian utuh dari diri semestanya. Hanya mereka yang tidak terperangkap dalam penilaian pikiran akan mudah memahami dirinya sendiri.

Inilah sifat kesucianmu anakKu. Bukan pada atribut apa pun yang kau gunakan, namun pada apa pemahaman yang kau miliki. Kesucian sejati bukanlah semata-mata pikiran yang selalu ada dalam sifat-sifat kebaikan. Sebab kebaikan duniawi yang kau miliki bukanlah kebaikan yang sesungguhnya. Hal itu hanya sesuatu yang kalian sepakati bersama sebagai sebuah kebaikan. Kebaikan duniawi tidak kekal karena kesepakatan kalian bisa berubah sepanjang jaman. Bahkan di dunia kalian yang sama, kebaikan itu dapat memiliki sisi yang berbeda makna. Ini bukanlah kebaikan sejati yang menjadi jejak bagi kesucian sejati.

Seorang yang tidak mau melakukan sesuatu karena ia menganggapnya sebagai noda bagi kesuciannya, ia belumlah orang suci. Namun bila ia tidak mau melakukan sesuatu bukan karena hal itu baginya adalah noda, dialah orang suci. Ia menjadi suci karena tidak ternoda oleh penilaiannya.
Seseorang menjadi suci bukan karena membenci apa yang disebut ketidaksucian oleh dunia. Tidak pula karena ia selalu berusaha berada jauh dari hal-hal yang disebut noda dalam pemahaman duniawi. Ia menjadi suci semata-mata karena keteguhannya untuk berjalan di kehidupan ini dalam kesadaran Jiwa yang penuh cinta kasih.

Kesucian Jiwa juga tidak disebabkan oleh kedudukan seseorang dalam status keagamaan. Siapa pun yang kehidupannya dipenuhi cinta kasih, bebas dari segala bentuk penilaian, ikhlas dalam penerimaan atas dualitas kehidupan, ia sedang memancarkan kesucian Jiwanya.

AnakKu, apa yang dengan mudah dapat ternoda sesungguhnya bukanlah sesuatu yang suci. Kesucian sejati justru dapat menghilangkan segala noda karena ia ikhlas melebur noda itu menjadi bagian dari diri semestanya. Perhatikanlah Nak, seseorang yang memancarkan kesucian Jiwa akan sanggup menggetarkan perasaan segala mahluk. Orang seperti itu dapat menenangkan batin yang gelisah hanya dengan ketenangannya. Ia melenyapkan kebencian hanya dengan penerimaannya. Ia mengatasi kesedihan hanya dengan ketidakmelekatannya atas segala hal.

Begitulah dirimu manakala telah mencapai kesucian Jiwa. Pancaran kesucian itu akan melampaui apa pun penampilan duniawimu. Karena kesucian Jiwa bukanlah apa yang dapat terlihat oleh mata fisik melainkan oleh mata hati. Bukan kata-kata yang terdengar oleh telinga pikiran namun oleh telinga batin. Demikianlah getar kesucian sejati tidak akan terhalang oleh apa pun. Maka sadarilah dirimu sebagai Jiwa, dan kesucian itu akan tumbuh dengan sendirinya.

Nak, jika setiap bagian dalam kisah kehidupan yang pernah kau lalui berulang kali ini telah kau sadari sebagai proses pemurnian Jiwa, maka mencapai kesucian sejati inilah tujuan pembelajaranmu disini. Dan untuk tujuanmu itu Aku telah menyediakan begitu banyak dualitas kehidupan sebagai bahan pembelajaran. Sekali lagi, kapan saja kesadaranmu telah mampu menerima semuanya tanpa dinodai penilaian, kau akan memahami makna kesucian yang Aku tuturkan ini.

Setiap Jiwa dalam setiap kelahiran sesungguhnya sedang bertumbuh untuk memurnikan dirinya sendiri. Bahkan Aku tak hendak mencampuri proses pertumbuhan itu meski Aku memiliki kuasa atasnya. Pertumbuhan ke arah kesucian mesti dilandasi oleh kesadaran Jiwa itu sendiri. Maka anakKu, sebelum kau disibukkan oleh keinginan untuk mensucikan orang lain, lebih bermanfaat bila kau berupaya membangun kesadaranmu sendiri untuk meraih kesucian itu. Kesucian sejati harus dimulai dari diri sendiri Nak. Itulah kunci untuk memasuki kemurnian Jiwa.

Terakhir, kesucian semestaKu seperti langit. Ia menerima segala hal tetapi tidak untuk memilikinya. Memberi banyak hal tetapi tidak mengharapkan balasan. Ia seakan memiliki batas namun sesungguhnya tak terbatas. Ia mengetahui segala hal tapi menyimpannya sebagai misteri. Ia tampak diatas meski sebenarnya ada di segala arah. Ia terang bukan karena ia bersinar atau tampak gelap bukan karena ia tak bersinar. Seperti ini jugalah kesucian Jiwamu Nak. Misterinya dapat kau pahami hanya setelah kau benar-benar mencapainya dengan penerimaan atas segala isi alam semesta sebagai bagian dari dirimu, bukan sebagai noda bagi kesemestaanmu. Karena Aku bahkan ada pada semuanya itu.

Sumber Penulis : W. Mustika
Saat Semesta Berbicara
Previous
Next Post »