Bekal Kehidupan

Untuk setiap kehidupan yang akan Kujalani sebagai Jiwa dalam tubuh manusia, Aku telah memenuhi diri kecilKu dengan empat hal sebagai bekal kehidupan. Suka-Duka-Lara dan Kematian. Itulah bekal yang akan menjadi bagian dari proses pertumbuhan kesadaranmu Nak, dari yang terbatas menjadi tak terbatas.


Bukan suatu kebetulan melainkan sudah Kuatur sedemikian rupa bahwa bekal kehidupanmu seperti itu. Hanya ada satu yang membahagiakan namun tiga lainnya membuatmu merasa menderita. Ini Kulakukan agar kau mengerti bahwa tidaklah sulit untuk merasa bahagia ketika kau sedang mengalami suka, namun sangatlah susah menjadi bahagia saat kau mengalami duka, lara atau pun kematian.

Aku membekalimu dengan suka agar kau menikmati kehidupan ini sebagai sesuatu yang berharga untuk dijalani sebagai pilihanmu. Sebaliknya, Aku juga membekalimu dengan duka dan lara agar kau tidak mudah melekat pada kehidupan ini hanya karena perasaan suka yang kau alami. Terakhir, Aku membekalimu dengan satu kepastian akan hadirnya kematian, agar kau mengerti bahwa kehidupan duniawimu ini akan berujung pada kematian.

Maka nikmatilah kehidupan ini dengan bekal rasa suka yang Kuberikan padamu. Lalu pahami duka dan lara yang juga kau rasakan di dalamnya sebagai pembelajaran menuju penerimaan terhadap keniscayaan dualitas semesta. Jadikan keduanya sebagai pengingat bagimu agar tidak mudah melekat pada kehidupan duniawi yang tak abadi ini.

Aku tahu kau telah terlalu sering mencari rasa suka itu di berbagai tempat dan waktu, namun kadang sukar atau bahkan gagal kau temui. Sebaliknya, meski kau terlalu sering menghindari duka, lara dan kematian itu dengan berbagai cara, namun ketiganya justru dengan mudah menemukanmu meski kau mencoba bersembunyi darinya. Dengan semua kegagalan yang kau alami ini, kehidupan menjadi begitu mudah membuatmu menderita. Untuk itu anakKu, kini akan Kuajarkan padamu bagaimana cara menjadikan semua bekal itu membahagiakan.

Sesungguhnya kau tidak terlalu perlu mencari kemana-mana untuk memiliki apa yang kau sukai agar kau merasa suka. Kau hanya perlu menyukai apa yang sudah kau cari dan miliki saat ini. Jika kau masih menginginkan hal lain untuk dimiliki, maka inginkanlah hal itu tanpa perlu kehilangan rasa suka yang sudah kau alami pada hal-hal yang masih kau miliki. Dengan begitu kau akan selalu berada dalam pelukan rasa suka yang membahagiakan.

Sesungguhnya pula kau tidak perlu menghindar dari duka dan lara agar kau tetap merasa suka dan bahagia. Kau hanya perlu belajar melihat dan memaknai duka-lara itu dari sudut yang bisa membuatmu suka dan merasa bahagia. Rasa sakit akan membahagiakan jika kau mengerti bahwa itu adalah pertanda bahwa tubuhmu sedang berproses menuju kesembuhannya. Duka akan membahagiakanmu jika kau benar-benar memahami bahwa itu adalah proses pemurnian Jiwa. Saat kau bisa ikhlas menerima duka-lara sebagai bagian dari dirimu, kau akan mengerti seperti apa Aku menerima dualitas rasa itu sebagai bagian tak terpisahkan dari diri semestaKu.

Aku adalah pencipta kehidupan ini. Akulah sutradara yang mengatur permainan peran Jiwa di kehidupan ini sebagai proses pembelajaran mencapai kesadaranKu yang tak terbatas. Dan untuk proses itulah Aku membekalimu ke-empat hal tadi. Hanya ketika kau memahami bahwa setiap bekal yang Kuberikan akan memberi manfaat bagi proses pencerahan kesadaranmu, kau akan berhenti menderita dan mulai bersyukur atas sukamaupun duka-lara dan kematian yang menemani perjalanan peranmu.

Kalian adalah anak-anak yang Kucintai, Kurindui dan Kutunggu untuk pulang dalam kesadaranKu. Sebagai Ayah-Ibu semesta, Aku membekali perjalanan kalian di dunia ini bukan untuk membuat kalian tidak pernah kembali lagi padaKu. Setiap bekal yang Kuberikan pada kehidupan kalian adalah bekal yang Kuharap akan membawa kalian kembali selamat pulang ke pelukan cinta kasihKu dengan kesadaran semesta yang lebih maju.

Dan untuk mencapai kesadaran semesta itu anakKu, belajarlah kau untuk tidak terlalu merasa bahagia saat suka karena itu akan membuatmu terjebak dan melekat pada kehidupan duniawi. Bergembiralah pada rasa suka itu sebatas untuk membuatmu bisa ikhlas bersyukur atas setiap hal yang membahagiakan itu.

Sebaliknya, berhentilah terlalu bersedih atas duka-lara dan kematian karena kesedihan hanya memperberat penderitaanmu. Bersedihlah hanya sebatas agar kau mengerti bahwa kehidupan duniawi bukanlah tujuan akhir. Bahwa setiap keadaan duniawi tidak layak membuatmu melekat di dalamnya. Semua pada akhirnya akan berlalu juga menjadi kenangan semata. Entah itu indah entah itu menyedihkan.

Hanya ketika kau tidak terlalu larut dalam bahagia ketika mendapat suka dan tidak terlampau bersedih saat mengalami duka-lara dan kematian, kau akan mudah tercerahkan dalam kesadaran semesta. Keseimbangan batin itu akan membuatmu mampu melihat makna dan manfaat dalam setiap peristiwa kehidupan.

Maka anakKu, manfaatkanlah ke-empat bekal yang telah kusertakan dalam kehidupanmu ini untuk melengkapi proses pembelajaranmu menuju kesempurnaan kesadaran. Aku tidak akan memberikan sesuatu bagimu jika bagiKu hal itu tidak akan membuatmu menjadi sempurna. Akulah Yang Mahasempurna dan Aku tahu bagaimana jalan dan proses yang kalian butuhkan untuk menjadi sempurna seperti kesempurnaanKu. Jika kalian sungguh ingin menyatu dalam puncak kesempurnaanKu, ikutilah jalan pembelajaran untuk mencapai keseimbangan ini.

Terakhir anakKu, berhentilah saat ini juga untuk berpikir bahwa kehidupan duniawi ini akan terbebas dari suka-duka-laradan kematian. Sia-sia bagimu untuk menghindari mereka. Itu semua adalah sebuah keniscayaan bagi dunia fana ini. Mulailah berpikir bahwa semua itu adalah bahan-bahan untuk mencapai kebahagiaan abadi bagi diri sejatimu, Sang Jiwa di dalam yang terus bertumbuh menuju kesadaran semestaNya.

Saat kau memahami semua ini, saat itu pula Aku tahu bahwa kau tidak lagi menyia-nyiakan bekal kehidupan yang Kusertakan bagi perjalananmu. Dan yakinlah bahwa di ujung pertumbuhan Jiwamu itu, Aku pasti akan menyambut kepulanganmu kembali padaKu untuk menyatu lagi sebagai diri semestaKu yang abadi.

Sumber Penulis : W. Mustika
Saat Semesta Berbicara
Previous
Next Post »