Penciptaan Dan Kelahiran

Sepanjang siklus waktuKu yang abadi ini Nak, Aku menciptakan alam semesta bukan dari suatu ketiadaan melainkan dari keadaan. Dari keadaannya yang bebas Aku menyatukan benih-benih alam semesta melalui keterikatan mereka satu sama lainnya. Aku menciptakan semesta ini dalam batasan bingkai hukum keniscayaan, hukum sebab akibat dan hukum dualitas yang pernah Aku ciptakan sebelum semesta ini ada.



Segala dualitas semesta yang Kuciptakan ini selalu ada dan selalu dalam kekekalannya. Mereka membentuk alam semesta ini karena efek hukum keniscayaan semesta menciptakan rantai keterikatan-kebebasan yang terjadi berulang-ulang selamanya. Inilah penyebab adanya siklus alam semesta yang tak berawal dan tak berakhir.

Dualitas materi-nonmateri niscaya akan mengalami keterikatan dan kebebasan secara berulang karena adanya hukum sebab akibat. Keterikatan dengan unsur yang satu menyebabkan mereka terbebas dari unsur yang lain. Tarikan demi tarikan yang silih berganti menjadi siklus keterikatan-kebebasan inilah yang menyebabkan semesta ini selalu hidup dalam keberadaannya.

Sebelum alam semesta ini ada dalam wujudnya sekarang, mereka adalah benih dualitas yang menyatu dengan diriKu dalam wujud yang sangat kecil bagiKu. Mereka bergerak mendekat padaKu sejak masa kehancuran semesta terjadi lalu terserap ke dalam diriKu. Saat mendekat inilah dualitas semesta raya yang mengecil itu kembali menjadi benih semestaKu.

Selanjutnya semua inti dualitas itu; material-spiritual, energi material-energi spiritual, kembali bersatu untuk menjadi suatu benih semesta raya. Benih inilah kemudian segera membelah diri dan berkembang menjadi semesta raya untuk memulai kembali kehidupan barunya. Inilah siklus kesemestaanKu dari ada menjadi tiada dan kembali ada.

Meski Aku menyatakan bahwa setelah kehancuran semesta mereka kemudian terserap menjadi benih semesta ke dalam diriKu, tidak berarti bahwa pada saat membelah kembali menjadi semesta raya ini mereka keluar dari diriKu. Tidak. Tidak ada yang pernah keluar dari diriKu. Mereka selalu berdiam dalam diriKu, selamanya. Mereka ada dalam diriku dan Aku ada dalam diri mereka semua.

Alam semesta ini adalah kreasiKu karena Aku adalah keindahan. Alam semesta ini selalu saling menjaga karena Aku adalah cinta kasih. Aku menjaga keabadian semesta ini melalui proses penciptaan, pemeliharaan dan penghancuran. Apa yang selalu Kuciptakan, Kupelihara dan Kuhancurkan tak lain adalah keterikatan. Keterikatan antara material dan material, material dan spiritual, serta spiritual dan spiritual. Aku menghancurkannya agar terjadi kebebasan, agar dari kebebasan itu bisa Kuciptakan keterikatan lagi. Dengan cara ini Kuciptakan alam semesta yang berisi kehidupan dan kematian sebagai rangkaian peristiwa di dalamnya.

Maka jangan takut pada kehancuran semesta karena Aku akan menciptakannya kembali. Jangan sedih pada kehilangan karena Aku akan mempertemukannya kembali. Gembiralah pada setiap penciptaan, pemeliharaan dan bahkan pada kehancuran. Karena tak pernah ada yang hilang, tak pernah ada yang hancur. Yang ada hanya pembebasan dari keterikatan satu sama lain.

Apa yang awalnya tiada, ketika ada maka mereka menjadi realitas. Apa yang awalnya ada, ketika tiada maka mereka menjadi imajiner, menjadi kenangan abadi dalam ingatan. Realitas dan imajiner pun adalah dualitas yang selalu ada dan hadir silih berganti. Semesta ini adalah sekumpulan dualitas. Tak seorang pun mampu menghindar dari dualitas ini, karena semesta sendiri dibentuk dari dualitas. Lebih baik engkau belajar menerima kenyataan dualitas yang tidak mungkin dapat dihindari.

Manakala kedua benih semesta terserap ke dalam diriKu, kumpulan material dan spiritual yang memusat dengan membawa energinya masing-masing mulai mendekat untuk bersatu. Muatan listrik negatif dan positif yang membentuk energi mereka masing-masing secara tiba-tiba bersentuhan. Dari situ timbul panas, timbul api semesta yang membakar. Pembakaran dan panas ini membuat bola energi material-spiritual mereka meledak, membelah dan terpisah menjadi pecahan-pecahan bintang. Bintang yang masih panas membelah lagi menjadi planet-planet. Planet yang masih panas membelah menjadi bulan-bulan. Hanya saat suhu mereka mendingin, mereka memadat seperti bumi yang kini kau tempati.

Setelah planet ini dingin seperti bumi yang kau tempati, molekul udaranya menyatu, mengembun menjadi air. Air ini berkumpul di lubang-lubang yang ada di bumi. Semakin lama ia menjadi semakin banyak hingga membentuk lautan. Panas matahari menguapkannya menjadi awan, menjadi hujan untuk kembali ke lautan. Dari awan kemudian tercipta kilatan petir. Listrik semesta inilah yang memulai terciptanya mahluk hidup mulai yang terkecil yang terdiri dari beberapa atom dan molekul material alam semesta. Inilah penciptaan awal.

Perlahan-lahan dalam miliaran tahun, benih-benih mahluk hidup itu bertumbuh dan berkembang menjadi lebih bervariasi dalam bentuk dan sifat. Mereka beradaptasi, berevolusi menjadi mahluk seperti yang ada saat ini. Inilah proses penciptaan, pemeliharaan dan penghancuran yang merubahnya terus menerus menjadi lebih baik. Ketika tiba saatnya semua isi alam semesta ini mendingin, mereka pun akan kembali bersatu menjadi benih semesta dan mengulangi lagi siklusnya seperti yang Kuceritakan tadi. Dingin menyebabkan terjadinya penyatuan dan panas menyebabkan pemisahan.

Aku menciptakan alam semesta bersama segala isinya serta kehidupan di dalamnya dengan kreativitas dari kecerdasan semestaKu. Dengan begitu maka pada setiap wujud yang Kuciptakan di semesta ini ada jejak-jejak kecerdasanKu yang bisa kalian pelajari. Dan dari semua mahluk yang pernah Kuciptakan, jejak terbesar kecerdasan semestaKu di bumi ini ada pada tubuh dan pikiran manusia.

Kuciptakan alam semesta ini dengan cinta kasih. Karena itu Aku mencintai semesta dan seluruh isinya sebagai karya cipta yang akan terus Kusempurnakan. Setiap peristiwa yang terjadi di alam semesta ini adalah bagian dari proses penyempurnaan yang selalu Kulakukan. Kau sendiri adalah bagian dari proses penyempurnaan itu. Maka berkembanglah segera menuju kesempurnaan.

Aku adalah kekosongan sekaligus yang mengisi kekosongan semesta itu. Sebagai isi dari kekosongan, Aku mewujudkan diriKu menjadi dualitas yang akan menjadi benih bagi terciptanya alam semesta beserta isinya. Wujud benih dualitasKu sendiri selalu memiliki bagian yang kosong untuk dipenuhi oleh bagian diriKu yang akan menjadi isinya. Maka Aku adalah wujud lelaki dan perempuan. Aku adalah kelebihan dan kekurangan. Aku adalah gelap dan terang. Aku adalah tinggi dan rendah. Aku adalah ada dan tiada. Aku adalah kehidupan dan kematian.

Itulah segala dualitas yang menjadi bahan-bahan yang dengan kreasiKu akan membentuk alam semesta. Maka kesempurnaan bagiKu adalah penyatuan kembali seluruh ujung dualitas kehidupan menjadi suatu pemahaman utuh tentang kekosongan dan isi dari kekosongan.

Dari pemahaman akan menjadi penerimaan terhadap dualitas. Dari penerimaan akan menjadi kepemilikan, dan dari kepemilikan akan menjadi penyatuan dalam dualitas itu. Akhirnya dari penyatuan dualitas akan menyisakan apa yang disebut sebagai “satu-satunya pengisi kekosongan”. Inilah kebenaran tunggal, kesadaran tertinggi. Inilah Aku dan penciptaanKu.

AnakKu, penciptaan semesta ini mirip dengan proses kelahiranmu ke dunia ini. Aku telah menyimpan rahasia penciptaan semesta ini di dalam tubuhmu jika engkau cerdas membukanya. Bahwa alam ini tercipta untuk berproses mencapai kesempurnaan semestanya, maka kau pun terlahir untuk tujuan yang sama; mencapai kesempurnaan dalam kesadaran semestamu sebagai Jiwa.

Karena itulah Nak, setelah memahami dirimu, andai dirimu pernah diliputi kekecewaan pada kehidupan duniawi dan pernah bertanya untuk apa Aku melahirkanmu ke alam semesta ini, biarlah Aku menjawab bahwa itu hanyalah pertanyaan dari pikiranmu, bukan dari diri sejatimu. Sebab, bila itu pertanyaan dari diri sejatimu yang memiliki sifat-sifat dan kecerdasan tak terbatas sepertiKu, Aku hanya akan mengingatkanmu pada satu jawabannya: “Keniscayaan.”

Namun karena pertanyaan itu berasal dari pikiranmu, maka Aku akan menjawab bahwa kelahiranmu adalah untuk belajar bertumbuh menuju kesadaran sempurna. Untuk itulah kau Kuhadirkan di dunia ini. Untuk menyadari dirimu sendiri sebagai diri semestaKu.

Jika kemudian kau bertanya pula tentang manfaat dari kelahiranmu di semesta ini, maka untuk diri sejatimu sebagai Jiwa, Aku akan menjawab: “Kamu lahir untuk keberhasilan Kita agar selalu ada dalam keabadian lingkaran keniscayaan”. Dan untuk pikiranmu Aku akan menjawab bahwa kamu lahir untuk bisa menerima kehidupan duniawi apa adanya dalam keseimbangan antara pikiran duniawi dan kesadaran rohanimu sebagai Jiwa.

Dan terakhir AnakKu, untuk selalu kau ingat, bertumbuhlah dalam kesadaran sebagai benih spiritualKu. Di puncak kesadaran itu Aku menjanjikan kebahagiaan yang melebihi kebahagiaan yang kau peroleh di dunia. Namun begitu, kau mesti tetap menjaga keseimbangan antara kesadaran spiritual dan peranmu dalam kehidupan dunia material ini. Tanpa keseimbangan, kehidupan alam semesta akan kehilangan keniscayaan dualitasnya.

Terikatlah pada peran dan tugas dalam kehidupan duniawimu, namun bebaskanlah kesadaran Jiwamu dari kemelekatan terhadapnya. Tanpa pembebasan itu maka setelah meninggalkan kehidupan dunia engkau akan terus melekat terhadap segala aspek duniawi.

Itulah yang selama ini telah membuatmu lahir dan lahir kembali ke dunia ini hanya untuk merasakan kembali nikmatnya saat-saat membahagiakan dalam badan fisik yang pernah kau alami. Bahagialah di duniamu saat ini, namun selalu persiapkan kebebasan diri dari kemelekatan duniawi agar kau bisa berbahagia di kehidupan setelah kematian dalam kesadaranmu sebagai Jiwa.

Nak, kelahiranmu ke dunia adalah kepergianmu dari diriKu. Kita terpisah dalam rentang kesadaran. Kau adalah bagian dari diriKu yang terjebak dalam ruang dan waktu duniawi yang terbatas, sementara ruang dan waktu itu sendiri ada dalam diri semestaKu yang tak terbatas. Dengan begitu kau sesungguhnya masih ada dalam diriKu, hanya saja kita tidak menyatu karena terpisahkan oleh perbedaan kesadaran.

Maka dalam setiap kelahiranmu Aku berharap kau berjuang untuk meraih kesadaran semesta lewat proses pembelajaran di setiap peran duniawi yang pernah kau jalani. Aku telah memahat jejak-jejak bagimu untuk jalan pulang kepadaKu, karena sudah begitu lama Aku merindukanmu Nak. Bertumbuhlah menuju kesadaran semestamu untuk bisa kembali padaKu. Aku selalu menantimu pulang ke rumah kesadaran semesta Kita yang dipenuhi cahaya cinta kasih dan kedamaian. Pulanglah AnakKu, Ayah-Ibu rindu merangkulmu dalam pelukan. Pulanglah Nak ....pulanglah.

Sumber Penulis : W. Mustika
Saat Semesta Berbicara
Previous
Next Post »