Siapakah Engkau?

Nak, meski Aku suka menjadi Ayah-Ibumu, Aku juga sahabat dan saudaramu. Maka dalam percakapan ini biarlah Ayah-Ibu lebih sering memakai kata Aku agar lebih mudah bagimu merasa dekat denganKu. Sedekat yang selalu Aku rasakan sepanjang masa denganmu, meski seringkali tidak kau sadari kehadiranKu selalu menjagamu.


Baiklah Nak, kini Aku akan berkisah panjang padamu. Dengan kecerdasan intelektualmu sejauh ini, Aku yakin kau akan mudah mengerti maksudKu asal kau bersedia melepaskan pikiranmu dari segala penilaian benar dan salah. Karena apa yang salah atau benar menurut konsep pikiranmu yang terbatas, belumlah tentu salah atau benar dalam pengetahuanKu yang tak terbatas.

AnakKu, dalam semua lipatan waktu masa lalu, masa kini dan masa depan Aku adalah keabadian spiritual sekaligus keabadian material. Aku adalah energi dan zat yang selalu kekal. Aku selalu ada di semesta ini. Aku ada dari apa yang yang pernah ada, sedang ada dan akan ada.

Seperti halnya dirimu bisa hadir di dunia ini karena terlahir dari sesuatu yang sebelumnya memang sudah ada (ayah-ibu), sedangkan mereka juga ada dari yang pernah ada (kakek-nenekmu), dan sekali lagi mereka pun ada dari siapa yang juga pernah ada sebelum mereka (nenek moyangmu). Begitulah Kutegaskan bahwa setiap yang ada selalu berasal dari apa yang ada. Tidak pernah ada sesuatu yang berasal dari sesuatu yang sebelumnya tidak ada.

Jika menurutmu di semesta ini ada sesuatu yang tercipta dari apa yang sebelumnya tidak ada, maka pemikiran itu hanyalah akibat keterbatasan pikiranmu tidak mampu memahami kebenarannya. Semua yang kau ketahui saat ini sesungguhnya sudah ada sejak awal alam semesta ini ada. Mereka semua berasal dari sesuatu yang sebelumnya sudah ada namun dalam keadaan awal yang selalu bebas. Karena pengaruh hukum keniscayaan semesta, material-material bebas itu lalu mulai saling berdekatan satu sama lain. Mereka berikatan, bersatu dan selanjutnya menjadi suatu bentuk material baru yang lebih mudah terlihat olehmu.

Begitulah seluruh alam material yang kau kenal saat ini tercipta oleh pikiran semestaKu dari bahan-bahan yang sudah ada sebelumnya. Semua yang ada saat ini tercipta dari gabungan kecerdasan pikiran semestaKu yang sebelumnya telah ada dalam keadaan terpisah-pisah. Kuharap kini kau mengerti bagaimana Aku bisa selalu ada tanpa awal dan akhir. Aku berasal dari sesuatu yang sebelumnya senantiasa ada dalam keabadian semesta. Aku berasal dari diriKu sendiri. Itulah keberadaanKu yang senantiasa kekal.

Kau adalah gabungan materi tubuh, pikiran dan Jiwa. Semua bahan-bahan yang menyusun dirimu sudah ada sebelum kau ada. Tubuhmu berasal dari unsur-unsur materi alam semesta yang juga membentuk seluruh bintang dan planet. Material tubuhmu sudah ada sejak materi alam semesta ini pernah tercipta dari yang sudah ada. Pikiranmu berasal dari kecerdasan-kecerdasan Jiwa yang pernah ada di alam semesta ini sejak semula. Dan Jiwamu, diri sejatimu, adalah sesuatu yang berasal dari sesuatu yang sudah ada sebelumnya yakni dari diriKu, dari Aku yang selalu kekal.

Maka AnakKu, Kutegaskan bahwa engkau adalah bagian dari diriKu, seperti halnya anak-anakmu adalah bagian dari dirimu sebelumnya. Perhatikan anakmu sendiri, material tubuhnya berasal dari material bumi, bagian dari alam semestaKu yang masuk ke dalam tubuh ibunya sebagai makanan lalu berkumpul membentuk tubuh janinmu. Energi yang mengisi tubuh anakmu adalah energi alam semestaKu yang melewati tubuh ibunya bersama makanan, minuman dan udara.

Ketika semua unsur-unsur material alam semesta itu telah menyatu membentuk tubuh janinmu, saat itu pun Aku harus memastikan satu bagian terkecil dari diriKu untuk menyatu dengan bayimu sebagai Jiwanya. Aku ada dalam dirinya karena Aku selalu ada dimana-mana dan harus mengisi semua ruang dan waktu di semesta.

Lalu kehidupan mulai terjadi sebagai gabungan antara diriKu yang selalu hidup sebagai Jiwa di dalamnya, tubuh yang tak hidup, serta energi semesta yang Kugunakan sebagai kekuatan untuk memberi gerak kehidupan bagi bayimu. Bila kau telah memahami proses ini, seperti itulah juga sesungguhnya cara dirimu berasal dariKu, Ayah dan Ibu semesta yang menciptakan kehidupan bagimu.

Seperti seorang anak memiliki gabungan sifat ayah dan ibunya, serta sifat-sifat yang dia dapat dari lingkungan hidupnya, begitu juga dirimu Nak. Kau memiliki sifat-sifatKu yang kau dapat karena Aku menurunkannya sebagai Ayah Semesta. Kau juga memiliki sifat Ibu Semesta yang kau dapat dari endapan sifat material yang kau peroleh dari alam tempatmu berdiam. Selebihnya kau menambahkan bagi dirimu sifat-sifat yang kau dapat dari kehidupan sosialmu.

Kumpulan dari berbagai sifat inilah yang kemudian membentuk pribadi duniawi yang membuatmu justru sulit membedakan antara sifat spiritual sejatimu yang terwaris dariKu sebagai Ayah, sifat material yang berasal dari Ibu semesta, serta sifat-sifat yang kau dapat dari lingkungan hidupmu. Sifat sejatimu terbungkus sangat tebal oleh sifat-sifat material dan sifat duniawi yang kamu pelajari dari kehidupan ini. Kesadaran sejatimu pun kian jauh terlupakan.

Kau tidak tahu tetapi Aku selalu tahu. Kau tidak sadar tetapi Aku selalu sadar. Karena itu Aku selalu memaafkanmu atas ketidaktahuan itu. Namun inilah saatnya bagiKu untuk mengajakmu tekun merenung dan mengingat kembali kesejatian sifatmu.

Dan bila sekali waktu dalam pertumbuhan kesadaran kemudian kau ingin mengetahui seperti apa wujud asliKu, renungkanlah seperti apa wujud aslimu. Aku sama seperti dirimu, tapi tidak sama seperti badanmu ataupun seperti apa yang pernah kau pikirkan tentang diri sejatimu. Jika perbandingan ini pun tidak berhasil membuatmu mengetahui seperti apa diri sejatimu dalam khayalan yang dibentuk oleh pikiranmu, maka terimalah keterbatasan pikiranmu itu.

WujudKu memang ada diluar batas pikiranmu. Maka biarlah cukup kata ‘Aku’ dan ‘Kau’ saja yang mewakili sesuatu yang tak mampu kau khayalkan atau gambarkan wujudNya. Selalu ada kata-kata yang kau ketahui dan mengerti maknanya tanpa perlu mengetahui seperti apa bentuknya. Sebaliknya, kadang kau akan mengenal suatu benda atau situasi namun tidak mengetahui nama atau istilahnya dalam cadangan kata-katamu. Maka biarlah ia menjadi demikian adanya saat ini.

Kelak, manakala Kita telah bersatu kembali dalam satu “wujud”, kau akan mengerti diri sejatimu tanpa perlu lagi memberi nama bagi wujudnya. Seperti ikan yang selalu gembira berenang di laut tanpa terusik untuk mengetahui betapa manusia dengan bebas menyebut wujud mereka sebagai ‘ikan’ di dalam lautan.

Itulah kesejatianmu Nak, Jiwa yang berasal dari benih sifat dan energi spiritualKu sebagai Ayah Semesta, yang bergabung dengan benih sifat dan energi materialKu sebagai Ibu Semesta. Kau lahir untuk bertumbuh menjalani kehidupan duniawi dalam peran sebagai penyeimbang kehidupan semesta ini sambil tetap berkembang dalam kesadaran sejatimu.

Di setiap mahluk Aku ada untuk mengisinya sebagai Jiwa. Kau tak lain adalah diriKu yang kecil dalam tubuh manusia. Kau adalah Jiwa yang sama dalam diri semua manusia dan mahluk hidup di semesta ini. Dalam tubuh dan pikiran manusia yang berbeda, semua Jiwa adalah bagian yang sama dari diriKu.

Kesejatianmu bukanlah sekedar tubuh yang kelak akan kau tinggalkan setelah kematian. Kau bukan pula pikiran yang sering terjebak dalam ketidaktahuannya. Kau adalah kecerdasan tak terbatas yang terkunci dalam pikiran yang terbatas. Kau adalah yang selalu hidup dan yang pergi saat kematian tetapi kau sendiri tidak pernah mati.

Kau adalah entitas kesadaran agungKu yang terjebak dalam semesta kecil tubuh dan pikiran manusia. Kau adalah diri kecilKu yang sedang bertumbuh untuk bisa mengingat hakekat diriKu yang besar. Kau adalah alam semesta yang sedang belajar memahami dirinya sendiri.

Kau bukan kemarahan, bukan kebencian, bukan pula kedengkian. Kau bukan keraguan, bukan ketakutan, bukan juga kebodohan. Kau bukan hasrat, bukan keinginan, bukan harapan, bukan pula cita-cita. Kau bukan kesedihan, bukan kegelisahan, bukan pula kegundahan. Semua bentuk sifat itu hanyalah bagian dari pikiranmu, bukan diri sejatimu.

Kau adalah kemurnian cinta kasih semesta yang selalu mencintai tanpa hasrat memiliki. Kau adalah yang memberi tanpa meminta. Kau adalah yang terlibat tanpa mesti terikat. Kau adalah pemilih yang tidak terjebak oleh penilaian atas setiap pilihanmu.

Di dalam tubuh dan pikiran manusiamu, kau adalah yang tidak gusar oleh penilaian apa pun. Kau adalah batin diam yang tekun mengamati situasi. Kau adalah keheningan hati yang bebas dari hiruk pikuk perdebatan ide pikiran. Kau adalah tangis yang bukan datang dari kesedihan atau pun kegembiraan. Kau adalah pemahaman yang tak terjelaskan dengan kata-kata. Kau adalah kekayaan hati yang tak tercuri dan kemiskinan duniawi yang tak terhina. Kau adalah kesadaran tak terbatas dalam tubuh dan pikiran terbatas.

Itulah dirimu Nak, yang terbungkus oleh tubuh dan terjebak dalam gelombang arus pikiran. Hanya saat pembungkus itu terkelupas dan gelombang itu menjadi lebih tenang, indahnya cahaya kesejatianmu akan terpancar keluar seperti lautan yang jernih dan tenang.

Setelah kau memahami diri sejatimu Nak, Aku akan membukakan pengetahuan semesta untuk menggugah kembali ingatan akan kesadaran sejatimu. Amati tubuhmu, amati pikiranmu, karena disitulah Aku menyimpan semua pengetahuan semesta ini dalam dirimu. Bacalah tubuhmu.

Sumber Penulis : W. Mustika
Saat Semesta Bicara
Previous
Next Post »