Siapakah Aku?


Tapi dari semua yang Kusuka, Aku memilih untuk mengatakan bahwa diriKu adalah Ayah dan Ibumu. Aku memilih ini karena alasan begitu besarnya kerinduanKu padamu setelah keterpisahan kita dalam miliaran waktu dan kelahiran yang telah berulang kali engkau lewati bersama sepinya pemahaman tentang kesejatian.

Aku menyukai entitas diriKu sebagai Ayah-Ibumu karena terkenang saat kelahiranmu dari diriKu di awal penciptaan alam semesta ini. Aku suka kalian memanggilKu Ayah-Ibu, karena dengan begitu Aku bisa segera memelukmu penuh kecintaan dan kasih sayang yang tulus tanpa halangan apapun.
Lebih dari semua itu, Aku menempatkan diriKu sebagai Ayah-Ibumu karena Aku memiliki cinta kasih padamu yang melebihi apa yang kau pahami tentang cintaKu padamu. Andaikan saat ini engkau telah memiliki anak dan mencintainya sepenuh kasih, maka ketahuilah, besarnya cinta kasihKu padamu miliaran kali cinta yang kau miliki dan rasakan terhadap anak-anakmu.

Aku tahu engkau sudah lama mencariKu kemana-mana karena bagimu Aku selalu tidak mudah kau temui. Sungguh, tidaklah demikian kenyataannya. Aku ada dimana pun kau pergi mencariKu karena Aku ada dimana-mana. Jika bagimu Aku ada di langit, maka Aku ada di langit keyakinan. Jika bagimu Aku ada di dasar bumi, maka carilah Aku di dasar keikhlasan hatimu. Dan jika bagimu Aku tinggal di tengah samudera, pergilah ke dalam samudera kepasrahanmu. Aku adalah ruang dan waktu bagi alam semesta ini. Kalian semua ada dalam diriKu.

Aku adalah kata-kata, namun Aku berada dalam kumpulan kata-kata yang tidak akan kau temui dalam perbendaharaan kata-katamu yang terbatas. Hanya ketika kau telah melihat kesejatian dirimu sendiri, kau akan mengetahuiKu tanpa membutuhkan kata-kata lagi.

Aku adalah suara, tapi kau tidak akan mendengar suaraKu dalam riuhnya suara-suara hati dan pikiranmu. Aku adalah suara yang hanya terdengar dalam kesunyian hatimu. Aku adalah suara yang suka menyelinap dalam suara-suara duniawi yang sering kau dengar. Hanya saat hatimu mulai waspada, kau akan mendengar Aku sedang memanggilmu dengan suara dan kata-kataKu.

Aku adalah gerak aktif alam semesta yang bekerja di tengah keheningan demi memenuhi setiap kesungguhan doamu yang berharap padaKu. Aku bekerja untuk memberi pahala dan memberi pahala bagi setiap tindakan kerja. Aku adalah pusat dari kerja dan pahala kepada siapa setiap bentuk kerja dan pahala semestinya dipersembahkan kembali.

Akulah Ayah-Ibu yang dengan lega melepasmu bersama kebahagiaan dalam kelahiranmu, lalu dengan sabar menantimu pulang di ujung penderitaan kehidupan untuk memberimu pelukan kasihKu. Dalam kebahagiaan atau pun penderitaanmu, Aku akan selalu menjadi sumber bagi kebahagiaan abadi yang menjadi tujuanmu.

Pergilah menyelam ke dalam dirimu sendiri, karena disitulah Aku menyediakan ruang dan waktu bagimu untuk menjumpai diriKu. Disitu Aku akan menjadikan hatimu dipenuhi kebahagiaan karena kau adalah benih kebahagiaan yang terus bertumbuh dan Aku adalah sumber darinya.
Dan dalam kebahagiaanKu saat kau mau membaca tulisan ini, biarkan Aku memanggilmu dengan sebutan ‘Nak’. Itulah bentuk kebahagiaan dan kecintaanKu padamu. Aku bahagia karena kerinduanKu telah kau obati dengan percakapan hatimu bersamaKu lewat tulisan ini. Aku telah hadir disini sekarang AnakKu. Ayah-Ibu semesta sedang berbicara padamu dengan penuh kerinduan.

Tapi maafkan Nak, bila dengan segala kerinduanKu saat ini kau seakan tidak Kuberi kesempatan memotong atau menghentikan kata-kataKu yang akan terus mengalir. Sebab sepanjang waktu ini Aku lebih banyak diam dalam lamunan doa-doamu padaKu. Dan bukankah sudah sekian lama, selama ini, Aku disibukkan untuk mendengar kata-katamu, keluhan-keluhanmu, keinginan-keinginanmu yang meluap, tangis kesedihanmu, teriakan dari penderitaanmu; dan Aku hanya terdiam tanpa kata?

Maka biarkan kali ini Anakku, Ayah-Ibu kembali berbicara panjang ke dalam kebeningan dan kepolosan hatimu. Heninglah seperti saat pertama kali kau Kuciptakan ke alam semesta ini dan seperti setiap kali kau Kubiarkan lahir kembali berulang-ulang dalam kehidupan ini sebagai bayi-bayiKu yang suci.
Bukalah tanganmu penuh keikhlasan dan lapangkan pula hatimu AnakKu. Dalam keheningan ini Ayah-Ibu akan merangkulmu dalam pelukan cinta kasih. Biarkan kasih sayangKu menghanyutkan segala penderitaanmu selama ini. Biarkan kehadiranKu memuaskan kerinduanmu padaKu sejauh ini. Menangislah Nak, jika itu tangis kemurnian yang mengalir dari dalam Jiwamu.

Dalam kata-kata penuh kerinduan ini Nak, ijinkan Ayah-Ibu berkisah banyak tentang siapa diri sejatimu. Tentang kehidupanmu, tentang pertumbuhanmu, juga tentang segala pembelajaran dalam kehidupan yang telah kau pilih ini. Tentang penderitaan atau kebahagiaan yang sedang kau alami, serta tentang kesadaran semesta yang selama ini kau abaikan.

Dengarlah dengan tekun Nak, dengan kepolosan hati dan kejujuran pikiran. Ayah-Ibu menjanjikan kebahagiaan sesungguhnya jika kau telah memahami semua kata-kataKu ini. Satukan hatimu padaKu, maka akan Kubawa kau menyelami diri sejatimu.

Sumber Penulis : W. Mustika
Saat Semesta Bicara
Previous
Next Post »