Hakikat Manusia Sejati

Semua bagian hakikat manusia selain Hakikat Jiwa (Roh Sejati, Atma) merupakan bagian dari Māyā (Ilusi Besar). Hal ini disebut ketidaktahuan atau Avidyaa yang bila diterjemahkan secara harfiah berarti ‘ketiadatahuan’. Kata ketidaktahuan atau Avidyaa (Kegelapan) berasal dari kenyataan bahwa kita manusia mengidentifikasi diri dengan tubuh fisik, tubuh pikiran, dan tubuh intelek kita, namun bukan dengan hakikat utama manusia yang sejatinya merupakan Jiwa (Roh Sejati) atau prinsip Tuhan YME (Atma) di dalam diri kita.


"Ketidaktahuan Merupakan Akar Penyebab Ketidakbahagiaan"

Manusia akan melekat pada uang, rumah, keluarga, kota, negara, dll. Semakin besar kemelekatannya kepada individu atau objek, semakin besar pula kemungkinan untuk timbulnya ketidakbahagiaan dari kemelekatan tersebut. Bahkan, seorang pekerja sosial yang ideal atau Orang Suci dapat menjadi melekat pada masyarakat atau pengikutnya. Kemelekatan terbesar yang dimiliki setiap orang adalah dirinya sendiri; yaitu pikiran dan tubuhnya sendiri. Bahkan sedikit saja ketidaknyamanan atau penyakit dapat membuat seseorang tidak bahagia. Maka setiap orang harus secara bertahap melepas kemelekatannya pada diri sendiri dan menerima rasa sakit serta penyakitnya dengan tenang. Hal ini tentu saja dibarengi dengan suatu pengertian yang mendalam bahwa pada hakikatnya kebahagiaan dan ketidakbahagiaan yang dialami dalam hidup disebabkan terutama karena takdir kita. Selain itu, hanya dengan mengidentifikasikan diri kita pada Hakikat Sejati Manusia (Jiwa), barulah kita dapat mengalami Bahagia Sejati.

Jiwa (Roh Sejati, Atma) dan Ketidaktahuan secara bersama-sama menjadi ‘perwujudan Jiwa’. ‘Ketidaktahuan’ pada seorang manusia yang hidup memiliki dua puluh komponen secara keseluruhan – Tubuh Fisik, kelima organ indera non-fisik, kelima organ motorik non-fisik, kelima energi vital, pikiran sadar, Chitta, Intelek, dan Ego. Oleh karena fungsi dari komponen-komponen tubuh halus tersebut berjalan secara terus menerus, maka perhatian dari ‘perwujudan Jiwa’ menjadi lebih tertuju kepada komponen-komponen tersebut dan bukan kepada Hakikat Jiwa (Roh Sejati, Atma). Akibatnya seseorang menjauh dari pengertian akan Hakikat Jiwa yang Sejati dan cenderung menuju kepada ketidaktahuan.
Previous
Next Post »