Home » » Memahamai Dimensi Materi, Ruang dan Waktu

Memahamai Dimensi Materi, Ruang dan Waktu

Sudah beberapa lama Yahya dari negeri Maghribi ber-doa dan ber-dzikir untuk mendapat pengetahuan langsung dari sisi Allah siapakah gerangan Wali Quthb di zaman itu abad 13 M. Suatu saat beliau dibukakan hijab, melihat seorang Syekh yang sangat berwibawa sedang mengisi kuliyah filsafat mistik dikelilingi murid-murid mancanegara yg sangat enthusiastik. Dalam penglihatan itu, beliau mendapat bisikan kalau sang Guru Besar yg ‘Master of the Time’ bernama Muhyiddin turunan kabilah Ta’i dari kota Sevilla, Andalus.

Yahya yang berusia 30an tahun sedang dalam suasana bathin menggelora untuk menapak jalan marifat dibawah bimbingan ‘Master of the Time’ yang ia nanti-nanti. Berangkatlah beliau ke negeri Andalus yg memang sedang mekar-mekarnya. Beribukota di Granada, mempunyai Universitas pertama dunia di Cordova. Karena mengira guru besar yg ia cari sedang dalam masa mengajar, berangkatlah ia ke Cordova. Sesampai disana, tak seorangpun mahasiswa juga penduduk Cordova pernah mendengar seorang Guru Besar filsafat mistik bernama Muhyiddin turunan Kabilah Ta’i asal kota Sevilla.



Penasaran karna yakin dgn spiritual vision yg telah ia dapat, beliau segera menuju Sevilla, mungkin Guru Besar yg ia cari seorang yg sudah pensiun kembali ke kampung halaman. Di kota inipun semua orang menggeleng bila ditanya Syekh Muhyiddin dari Kabilah Tai, Guru Besar Filsafat Mistik. Dengan sangat kecewa, melangkahlah beliau hendak pulang ke Maghribi, dipinggir kota Sevilla, karna masih penasaran, di gerbang suatu madrasah beliau bertemu bocah 10 tahunan. Beliau bertanya,”Nak, saya sedang mencari seorang Guru Besar ilmu filsafat mistik bernama Muhyiddin turunan kabilah Ta’i, saya dengar beliau kelahiran kota Sevilla”. Terkejutlah sang bocah mendengar uraiannya dan menjawab,”Tuan, di kota ini yg bernama Muhyiddin dari kabilah Ta’i hanya saya sendiri, tidak ada yg lain!” Tidak kalah terkejutnya Yahya segera menjawab,”Bagaimana mungkin seorang bocah, kalau begitu saya tak ada keperluan dengan mu”.


Tigapuluh tahun kemudian, Yahya yang sudah berumur 60an tahun mendengar ada seorang Guru Besar ilmu filsafat mistik luar biasa yg mengajar di Universitas Damaskus. Walaupun sudah berusia lanjut, demi mendengar kuliyah pencerahan dari seorang Syekh luar biasa, Yahya berangkat ke Damaskus. Sesampai disana segera menuju Universitas tempat dimana Syekh yg sangat hebat ini mengajar. Di suatu ruang kuliyah, terperanjatlah Yahya mendapatkan suasana kuliyah seperti yg ia lihat pada ‘spiritual vision’ 30 tahun lalu. Syekh yg sedang dikeliling murid-murid mancanegara ini memperhatikan kedatangan seorang tamu asing dari jauh, 2 pasang mata beradu pandang seakan pernah saling mengenal disaksikan ratusan pasang mata mahasiswa mancanegara. Sebelum sampai ke tempat majelis untuk duduk bersama mahasiswa, berserulah sang Guru Besar,”Wahai Yahya, bukankah engkau tidak punya keperluan denganku”.


Betapa malunya Yahya mengetahui Sang Guru Besar adalah seorang bocah yg 30 tahun lalu ia hardik. Sang Guru Besar segera turun dari mimbar dan mendekati Yahya dan berujar,
”Spiritual vision anda tentang ‘Master of the Time’ adalah benar, tetapi dari 3 dimensi (materi, ruang dan waktu) anda hanya salah memahami waktunya, seharusnya anda tak perlu terburu-buru mencari saya 30 tahun lalu. Untuk memahami ‘spiritual vision’ membutuhkan penguasaan mendalam tentang dimensi materi, ruang dan waktu

Beliau lah yg kemudian kita mengenalnya sebagai Syekh Akbar Muhyiddin Ibnu Arabi. Sufi dan ahli mistik terbesar sepanjang masa, yg kitab karangan beliau, Fusush al Hikam dan Futuhatul Makiyah di pelajari bukan hanya oleh kaum sufi muslim. Umat nasrani dan yahudi ikut mengintip kehebatan kitab-kitab ini yg menggemparkan seluruh umat manusia di zamannya. 

Sumber by : Sabrang Lor 

Saturday, December 17, 2011

0 komentar:

Post a Comment