Home » » Agama Dan Wayang

Agama Dan Wayang

Kalau dipikir-pikir, meskipun juga false logic, agama tidak ada bedanya dengan wayang. Keduanya mengajarkan kebaikan, siapa salah bakal seleh, ada lemah ada kuat, ada sakti ada sekedar rakyat jelata. Ngomong-ngomong nih, wayang juga berasal dari kitab suci: Ramayana dan Mahabarata, dua kitab suci yang menjadi rujukan teman-teman yang beragama Hindu / Budha.

Pagelaran wayang sama dengan pagelaran dunia dengan dalang sebagai Allohnya, dan anggap saja para penabuh dan juga pesinden adalah para malaikat yang bertugas dalam kendali dalang, semua bermain dalam satu kesatuan. Kita sebagai penonton adalah umat beragama yang fanatik terhadap agamanya, dan juga kemungkinan fanatik terhadap wayang.


Dalam agama Islam misalnya, kalau anda sholat menghadap ke utara, pasti bakal diprotes banyak orang, ada masjid yang dipasang gambar salib (misalnya ada Romo yang menjadi donatur), pasti dijamin bakal didemo masyarakat. Demikian juga wayang, ada yang fanatik. Coba saja tiba-2 tokoh Semar digambarkan sebagai ksatria yang doyan kawin, kiamat deh. Atau Arjuna yang serta merta bisa terbang seperti layaknhya gatotkaca. Dijamin bakal ada teriakan “Dalang ngawur kagak tahu pakem.” Padahal maunya Ki Dalang untuk variasi biar nggak bosan. Tidak bisa!!

Coba kalau film, makin digoyang ceritanya makin asyik dan sutradara mendapat acungan jempol. Sehingga kita bisa berkesimpulan, wayang ada pengikut fanatiknya bahkan ada yang menempatkan wayang sebagai suatu ajaran disamping agama resmi yang dianutnya.

Di Inggris lucu lagi, karena agama dianggap hak azasi maka negara tidak berhak mengatur keberadaan agama. Ada salah satu orang Inggris yang menulis di identitas (KTP) untuk butir agama, dia isi dengan: Football (sepak bola). Kan lebih ngeri, football koq difanatiki ajarannya. Tapi memang ada benarnya. Coba tiba-tiba keeper (penjaga gawang) langsung menggiring bola ke gawang lawan, pasti orang pada dag-dig-dug, padahal keeper hanya gemes pada penyerang yang leda-lede. He he...

Monday, September 12, 2011

0 komentar:

Post a Comment