Home » » SIMBOL LEGITIMASI KEKUATAN SUPRA

SIMBOL LEGITIMASI KEKUATAN SUPRA

Wahyu keprabon mempunyai makna sebagai simbol adanya restu dari suatu kekuatan supranatural dalam hal ini adalah para leluhur besar bumiputra. Siapa pun orang yang telah memangku wahyu keprabon dipastikan ia sudah memperoleh restu (legitimasi) yang berasal dari kekuatan supranatural yang melimputi bangsa besar ini. dapat dikiaskan manusia, lelembut, hewan dan tumbuhan akan mendukungnya sehingga Nusantara menjadi negeri yang ayom ayem tentrem. Lantas bagaimana caranya agar seseorang dapat kesinungan wahyu keprabon? Yang benar-benar memahami adanya peranan dan otoritas leluhur pun belum tentu kesinungan. Nah, bagaimana mungkin seseorang yang tidak percaya kepada peranan besar leluhur bumiputra bangsa akan mendapatkan wahyu keprabon? Bagaimana pula orang akan bisa kesinungan memangku wahyu keprabon, sementara pengetahuan spiritualnya saja tak pernah mau beranjak selain berkutat pada level “kulit” saja.

Siapapun yang tidak mau dan tidak mampu memahami seluk-beluk, apalagi tidak percaya akan keberadaan dan andil besar wahyu keprabon ini, seyogyanya tak perlu terlalu berambisi mendapatkan tahta kepresidenan apalagi mau merombak asas negara sesuai kepentingannya sendiri. Karena segala daya upaya hanya akan sia-sia belaka. Perlu sekali untuk diingat. Bahwa negara ini mau dirubah dan dirombak menjadi negara macam mana, tidaklah cukup hanya mengandalkan perjuangan politik yang melibatkan beaya besar, strategi maupun manipulasi ideologi.  Nusantara bukanlah Eropa, bukan Amerika, bukan Timur Tengah, bukan China dan Jepang, bukan pula Afrika dan Australia. Nusantara merupakan bangsa besar dengan segenap tradisi dan aura spiritual yang berbeda, lain daripada bangsa-bangsa lainnya. Diakui maupun tidak, merupakan kenyataan bahwa Nusantara dihuni oleh bangsa yang sangat kental dengan kekuatan spirit dan kekuatan supra. Nusantara bukan saja menunjukkan suatu zone kepulauan dan zone maritim negara Indonesia, tetapi melibatkan zona teritorial metafisis di mana terdapat kekuatan supra yang menyelubunginya. Sebagai konsekuensinya realitas konstelasi kehidupan politik dengan “konstelasi gaib” saling berhubungan dan berpengaruh secara kuat.

Legitimasi yang bersumber dari “kekuatan supra” tak dapat dielakkan dari kancah kehidupan politik bangsa besar ini. Kenapa bisa begitu? Tentu ada alasan yang sangat kuat, sekalipun bersifat metafisik namun tetap dapat dijelaskan secara rasional sebagai suatu ngelmu sejati. Biarpun bersifat gaib, bagi tradisi spiritual local wisdom, ilmu sejati tetaplah berasal dari ngelmu kasunyatan (ilmu yang nyata berasal dari suatu kebenaran). Kesatuan antara tindak perbuatan dengan tingkat spiritualitas yang tinggi para leluhur pendahulu bangsa ini di masa lalu menentukan kecil-besarnya kemampuannya untuk campur tangan mempedulikan nasib anak turunnya. Itulah bedanya, antara Nusantara dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

Bukan sesuatu yang latah dan mustahil jika prediksi kuno menyebutkan bahwa kelak suatu saat nusantara akan menjadi mercusuar dunia, baik dalam bidang ekonomi maupun spiritual. Diakui ataupun tidak, merupakan sebuah realitas tak dapat dipungkiri nusantara adalah gudangnya ilmu spiritual yang mampu membawa manusia pada kesadaran spiritual yang tinggi. Eropa, Amerika, dan negara-negara Skandinavia boleh bangga dengan kelahiran generasi emasnya yakni anak-anak indigo dan kristal. Tetapi di Indonesia generasi semacam itu sudah ada sejak ribuan tahun silam. Bahkan kemampuan indigo dan kristal dapat diupayakan dan dipelajari oleh siapapun yang menghendaki dan mau membuka pikiran serta menjelajah ranah spiritual yang mahaluas. Sebaliknya bagi yang memilih mempertahankan pola pikir stagnan, menutup diri, enggan mengasah batin, dan dipenuhi oleh ketakutan-ketakutan untuk menjelajah dunia spirit tampaknya hanya akan tergilas oleh dinamika zaman dan kelak akan menjadi kenangan dunia berupa “fosil kebodohan” spiritual.

Salam sih katresnan                                                                   Sumber: SabdaLangit

Saturday, August 13, 2011

0 komentar:

Post a Comment