Home » » PUSAKA KEPEMIMPINAN TERTINGGI

PUSAKA KEPEMIMPINAN TERTINGGI

Keprabon berasal dari suku kata praba yang berarti sorot cahaya. Dapat bermakna pula aura yang memancar di seputar kepala. Keprabon merupakan sorot aura yang menandakan tingkat keluhuran dan kemuliaan seseorang. Makna khusus keprabon berarti tahta atau kekuasaan. Bagi seorang yang memiliki kemampuan melihat gaib atau melihat benda-benda metafisika, tentu akan mampu melihat pancaran cahaya keprabon yang menyelimuti kepala seseorang pemangku wahyu keprabon. Namun berbeda dengan aura pada umumnya, karena wahyu keprabon ini merupakan ajimat pusaka. Dari warna pancaran cahaya dan terutama getaran energinya dapat dibedakan mana wahyu keprabon mana pula yang bukan wahyu keprabon. Perbedaan paling esensial adalah wahyu keprabon merupakan ajimat pusaka yang memiliki efek terbukanya jalan bagi seseorang untuk memperoleh tahta kekuasaan (baca; kedudukan luhur).  Namun bukanlah sembarang kedudukan sebagai pemimpin, karena pusaka wahyu keprabon dikhususkan untuk memperoleh kedudukan sebagai orang nomer satu alias Presiden di negeri ini. Barang siapa yang mampu atau kuat memikul derajat tinggi, serta kesinungan (terpilih) memperoleh wahyu keprabon, itu artinya ia memiliki kesempatan besar menjadi penguasa atau Presiden RI. 

Sebut saja misalnya, Presiden pertama RI Bung Karno yang jumeneng sebagai satrio kinunjaran. Selama hidupnya sebagian besar waktunya habis di dalam penjara dan tahanan pemerintah kolonial Belanda. Setelah Soekarno surut, selanjutnya wahyu keprabon jatuh ke tangan Bu Tien Suharto. Mereka berdua merupakan orang-orang yang memperoleh wahyu keprabon. Khusus untuk Presiden RI yang kedua, wahyu keprabon jatuh pada Bu Tien, tetapi yang menjadi Presiden adalah suaminya. Itu artinya yang memangku derajat pangkat sang suami adalah sang istri. Istri yang kesinungan drajat diistilahkan sebagai “sing mengkoni atau yang memangku derajat wibawa dan kemuliaan. Setinggi apapun kedudukan suami tergantung pada kekuatan spirit sang istri. Maka Pak Harto serta merta memperoleh drajat-pangkat dan kemuliaan menjadi orang nomer satu di negri ini. Namun setelah Bu Tien wafat, Soeharto tidak lagi memiliki pasangan hidup yang memangku wahyu keprabon. Karena wahyu keprabon akan sirna bilamana pemangkunya wafat. Maka semenjak saat itu sirna pula lah wahyu keprabon sang istri yang selama pemerintahan ORBA menjadi penopang kedudukannya.  Semenjak Bu Tien wafat pancaran wibawa Soeharto menjadi redup dan  diakhiri dengan preseden buruk sejarah dengan lengsernya keprabon Pak Harto dengan cara menyakitkan. Andaikata semenjak Bu Tien wafat pada tahun 1996, Pak Harto menyadari jika wahyu keprabon istrinya sudah tiada lagi, kemudian Pak Harto menyudahi masa jabatannya sebelum tahun 1997, tentu saja akan berakhir dengan cara yang lebih terhormat dan barangkali tidak ada tragedi Mei 1998. Itulah liku-liku jalan hidup Pak Harto almarhum yang jumeneng sebagai satrio mukti wibowo kesandung kesampar. Satria yang penuh wibawa sepanjang karier kekuasannya, tetapi berakhir dengan cara yang tragis disia-sia banyak orang. Semua sudah menjadi sejarah yang musti diambil pelajaran oleh siapapun yang tergiur duduk di tampuk kepresidenan.

Sejak saat itu praktis tak pernah ada lagi seorang Presiden yang memangku wahyu keprabon. Tanpa wahyu keprabon, hampir pasti seseorang tidak akan dapat meraih singgasana kepresidenan. Jikalau pun dapat menjadi presiden, adalah sebuah pengecualian dan ada dua kemungkinan ; pertama, ia termasuk pemimpin yang berada dalam masa transisi dan akan terputus di”tengah jalan”.  Atau kemungkinan kedua,  pola-pola kepemimpinannya telah menempatkan bangsa ini ke dalam siklus kalabendu di mana banyak terjadi musibah dan bencana alam serta bencana kemanusiaan. Satria tanpa wahyu keprabon, selama masa pemerintahannya sulit untuk dapat meraih kemakmuran dan kesejahteraan bagi rakyat dan negara yang dipimpinnya. Sebaliknya beresiko besar periode kekuasaannya menjadi “boomerang” yang berakibat fatal bagi dirinya sendiri maupun rakyat yang dipimpinnya. Jika memang harus ada satria tanpa wahyu keprabon, mereka sekedar pengisi jeda yang bersifat sementara (tumbang di tengah jalan atau hanya menghabiskan sisa masa jabatan Presiden sebelumnya). Ia termasuk ke dalam kategori sebagai satria jinumput sumela atur, ibaratnya ia hanya benda kecil yang dipungut dengan ujung jari tangan, dan berfungsi sekedar “intermezo”.

Cukup banyak contoh di mana telah berulang kali terjadi dalam konstelasi politik negeri ini. Setelah peristiwa berakhirnya masa kekuasaan Presiden Soeharto, kemudian nasib serupa dialami Presiden ke tiga BJ Habibie yang hanya meneruskan sisa masa jabatan Presiden ke dua saja. Beliau tak bisa meneruskan untuk periode selanjutnya setelah pidato kenegaraannya ditolak mayoritas anggota legislatif. Selanjutnya Presiden ke empat Abdurrahman Wachid juga bukanlah Presiden yang memangku wahyu keprabon dan masa kepemimpinannya hanya berlangsung separoh jalan saja. Dilanjutkan Presiden Megawati juga hanya menghabiskan sisa-sisa masa jabatan Gus Dur. Beliau bertiga bukan termasuk penguasa nomer satu yang mendapat “legitimasi” kekuatan supra. Beliau bertiga merepresentasikan diri sebagai Satrio Jinumput Sumelo Atur. Jika diumpamakan sebuah kalimat, beliau bertiga seumpamanya tanda “koma”. Sepadan dengan jeda “intermezo” dalam suatu rangkaian mata acara. Dalam hal ini adalah jeda “intermezo” kursi kepresidenan. Jeda yang dimaksud bukan berarti kekosongan jabatan RI-1 melainkan sebagai penguasa yang melengkapi proses transisi perjalanan sejarah bangsa.

Lagi-lagi dengan presiden RI ke-enam Bung SBY juga bukan pemangku wahyu keprabon. Namun SBY berhasil menghabiskan masa jabatan periode pertama kekuasaanya,  dengan “tumbal” ratusan ribu nyawa rakyat Indonesia melayang akibat nusantara dirundung musibah dan bencana dahsyat. Apabila dibaca melalui kacamata prediksi nama-nama penguasa RI, terdapat sebuah akronim yang akrab ditelinga, yakni NOTONAGORO. Banyak orang mengartikan sebagai bentuk singkatan dari urutan nama-nama Presiden RI. Diawali dengan Soekarno (No), Soeharto (To), sementara itu kebanyakan orang masih simpang siur memaknai Na.  Ada pula yang mengartikan Na sebagai akhiran nama Yudayana alias Presiden SBY. Walau terkesan memaksakan makna, namun kiranya tidaklah terlalu melenceng. Sebab jika merunut aksara Jawa tidak ada huruf yang di baca dengan vokal a latin. Dalam alphabet Jawa huruf vokal a dibaca dengan suara kombinasi antara huruf a dan huruf o. Dengan demikian Na (vokal alphabet Jawa) kiranya tetap match dengan  akhiran pada nama Yudoyono. Dalam hal ini boleh saja orang mengartikan bahwa setelah SBY berkuasa kemudian akan terjadi goro-goro (Nagoro).

Ia menjadi presiden setelah pada waktu itu “kejatuhan sampur”. Beruntung (kesinungan kabegjan) karena ketika SBY “dianiaya” oleh lawan-lawan politiknya, ia tidak melakukan pembalasan dengan kejahatan serupa. Sebaliknya dia menerimanya sebagai suatu cambuk untuk meraih kesuksesan yang lebih tinggi. Namun Pak SBY seumpama pengutang kredit ke bank. SBY mempunyai kewajiban untuk mengembalikannya diwaktu mendatang. Ketika Pak SBY sudah resmi menjadi Presiden harus menggenapi “syarat-syarat” melalui jalan spiritual (nggenepi laku) agar supaya wahyu keprabon dapat diraihnya di masa jabatannya. Namun rupanya hal itu tidak dapat dilaksanakan semenjak awal periode kepemimpinannya. Alhasil pak SBY gagal nggenepi laku spiritual. SBY sebenarnya mendapat kesempatan besar untuk nggenepi laku sejak sebelum dilantik menjadi Presiden dan terutama mulai awal periode pertama kepemimpinannya. Entah beliau mengerti “kunci-kunci” dan syarat dalam nggenepi laku ataukah tidak tahu menahu samasekali, atau malah menyepelekannya dengan menganggap sebelah mata jalan spiritual yang kudu ditempuhnya. Apapun alasannya, kenyataannya pak SBY tak dapat nggenepi laku sedari awal. Sebagai konsekuensi logis atas kegagalan itu, alam pun kemudian menjalankan rumus-rumusnya berupa hukum sebab akibat dengan begitu transparan dan adil.

Awal masa kekuasaan SBY nusantara ibarat sedang menghadapi datangnya cuaca buruk, di mana akan banyak terjadi prahara hujan dan badai, namun Pak SBY tidak membawa payung, tidak pula membangun tempat berteduh, bahkan tidak melakukan tindakan antisipatif menghadapi kecamuk prahara yang akan terjadi. Tak ayal lagi bencana dan musibah datang bertubi-tubi silih berganti menimpa negeri ini sepanjang karier kekuasaannya.  Musibah dan bencana terasa tiada kuasa untuk diantisipasi atau setidaknya mendapat “dispensasi”. Musibah dan bencana bukanlah sesuatu yang bersifat kebetulan. Penting untuk dicatat, bahwa sudah ratusan ribu nyawa melayang akibat musibah dan bencana semenjak periode kepemimpinan SBY-JK dan SBY-Budiono yang belum genap 7 tahun ini. Barangkali di antara para pembaca yang budiman ada yang menilai tulisan ini sebagai upaya menghubungkan hal-hal yang tak ada kaitannya. Apapun pendapat dan cara pandang orang, sekali lagi, saya menyaksikan sendiri dengan mata wadag dan mata batin bahwa semua itu bukanlah suatu hal yang bersifat kebetulan saja. Tampaknya akan sangat berat bagi Pak SBY menyelesaikan periode ke dua tampuk kekuasaannya. Bisa melewati tahun 2011 saja sudah cukup lumayan. Kalaupun nanti 2012 harus lengser, dilihat dari hukum sebab akibat semua sudah menjadi suatu kewajaran, dan tak ada yang istimewa, tidak pula mengagetkan. Perlu dicamkan dalam-dalam, memang bukanlah kesalahan mutlak SBY namun dia sebagai orang yang paling bertanggungjawab atas beres-tidaknya pengelolaan negara serta nasib rakyat Indonesia. Kiranya beliau belumlah cukup kuat nyunggi drajat dan tanggungjawab seberat itu. Apalagi ia berada dalam fase yang memang sungguh berat untuk dilalui. Di mana situasi dan kondisi negeri yang tengah berada dalam keadaan sedemikian parah dan bahaya ini, wajar saja butuh seorang figurnyatriyo figur yang benar-benar berani berwatak ksatria dan betul-betul kuat menjadi seorang satria. Pemimpin yang tidak berani nyatriyo tentu akan hancur oleh mekanisme hukum alam.

Salam sih katresnan                                                                   Sumber: SabdaLangit

Saturday, August 13, 2011

2 komentar:

  1. Assalamualaikum permisi admin hanya sedekar berbagi pengalaman, Awal mula saya mengikuti pesugihan karena usaha saya bangkrut dan saya di lilit hutang hingga mencapai 2Milyar lebih, awalnya saya sempat takut dan bertanya-tanya. Setahu saya yang namanya pesugihan itu pasti akan meminta tumbal seperti nyawa dari salah satu anggota keluarga dan melakukan ritual-ritual tertentu dan hal-hal menakutkan lainnya. Dan sempat bingung ketika membaca di website USTAD UJANG BUSTOMI http://pesugihanjawa69.blogspot.co.id/ apakah iya pesugihan itu memang ada yang tidak memakan tumbal. tapi selama dua hari saya berpikir akhirnya saya bergabung dan menghubungi USTAD UJANG BUSTOMI kata Pak ustad pesugihan yang cocok untuk saya adalah pesugihan penarikan uang ghoib 3 Milyar dengan tumbal hewan, semua petunjuk saya ikuti dan hanya dua hari. Alhamdulilah akhirnya 3M yang saya minta benar benar ada di tangan saya. Perlahan hutang-hutang saya mulai saya lunasi. Dan yang paling penting bisnis keluarga yang saya warisi tidak jadi koleps. Ternyata pesugihan ustad.ujang bustomi berbeda dengan pesugihan yang saya kenal sebelumnya, dan tidak meminta tumbal keluarga, Jika ada teman-teman disini yang sedang kesulitan masalah ekonomi. Saya menyarankan untuk menghubungi USTAD UJANG BUSTOMI di 085215951837 pasti akan di bantu

    ReplyDelete
  2. Apa sudah cukup kuat menghianati hati anda senddiri .

    ReplyDelete